Sunday, 18 April 2021

Semesta Bekerja

     Pernah kah kalian merencakan sesuatu tetapi  seakan-akan semesta tidak mendukungnya?,

saat dimana apa pun yang kalian lakukan benar-benar seperti semesta tidak merestuinya.

Adakah di benak kalian pertanyaan mengapa demikian, sungguh aku pun tak mengetahui bagaiman rumus bagaimana semesta ikut bekerja mendukung rencana kita.

Sering sekali aku pun merasakannya, saat seminggu ini ingin merencanakan begitu banyak hal yang telah engkau fikirkan dan rencanakan agar tertata begitu rapi dan sedemikian rupa, akan tetapi selalu di benturkan pada kenyataan yang tak pasti.

    Usaha begitu keras, katanya dan menurut pribadi. Walapun menurut hukumnya ketika hasil belum sesuai berarti usaha kita masih kurang. 

Lalu, apakah memang benar begitu keadaaannya? aku rasa tidak demikian, karena kita tidak bisa mengukur betapa telah berusahanya setiap diri kita, orang lain boleh menilai apapun yang menurut penilaian mereka secara subjektif.

Ada waktu kita malah seakan-akan telah menyerah dan malas untuk mengharapkan apa yang telah kita kerjakan dan inginkan justru itu yang bahkan selalu berjalan lancar. Apakah itu konsepnya? setiap diri kita wajib mencobanya. Seandainya dari kalian semua ada yang telah menegerti bagaimana proses itu terjadi tolong beritahu kami bagaimana cara semesta itu bekerja agar setiap diri kita semua bisa mengikuti bagaimana konsep semesta bekerja itu.

    Apakah dengan menggunakan konsep berserah? beserah dengan menyerah setauku memang dua definisi kata yang berbeda, walaupun dalam kata dasar sama serah.

Dengan demikian konsep itu yang sementara aku lakukan dalam berusaha, memang dalam hal menjaga perasaan yang gampang sekali untuk berubah-ubah dalam waktu yang singkat, akan tetapi dalam batas kemampuan aku yang hanya bisa seperti ini, maka akan aku lakukan sebisanya.





                                                                                                                                                         Malang

                                                                                                                          Halim Cakra Mas Hadinata


Sunday, 11 April 2021

putus asa

Kau menyuruhku mengapai bintang di langit,
Tetapi aku tak punya sayap untuk terbang.

Kau menyuruhku berlari sekencang-kencangnya,
Akan tetapi, seeperti laut tanpa terlihat ujungnya.

Kau menyuruhku menunggu,
Tetapi, tawa dan aroma tubuhmu tidak begitu dapat ku dengar dan ku hirup.

Kau menyuruhku merindu,
Tetapi tidak sedikit ada ujung bibirmu melebar.

Dan sekali lagi, kau masih menyuruhku berharap,
Tetapi, dua garis yang terlukis benar-benar dengan titik yang berbeda.