Saturday, 18 April 2020

Pemimpi di Dalam Negeri Tirani

Hai , pemimpi
Bagaimana tidurmu malam ini?
Apakah sebungah hari kemarin?
Atau kah sudah berubah jadi setan?

Hai, pemimpi
Masih kah kau melihat bintang?
Masih ada kah bulan? 
Masih ada kah secercah sinar di langit? 

Hai , pemimpi 
Masih kah kau melihat istana?
Masih kah kau menunggang kuda bah seorang pangeran? 
Masih kah kau di dampingi oleh selir-selirmu yang cantik? 

Hai , pemimpi
Di dalam sadarku
Aku tak pernah berbahagia 
Semuanya menjelma menjadi setan 

Hai, pemimpi 
Aku tak pernah melihat bintang,
Aku tak pernah melihat bulan , dan bahkan secercah sinar di langit,
Di negeriku ini tirani , mengikutiku kemanapun aku pergi.

Hai, pemimpi
Aku masih juga melihat istana , iya istana milik raja dan keturunannya yang sampai kapanpun akan selalu tetap milik mereka,
Aku pun hanya berjalan sampai kau bisa menengok terdapat begitu banyak kapal di telapak kakiku,
Aku untuk memikirkan makanku esok hari masih saja bingung , bagaimana aku bisa mendambakan seorang yang begitu menawan yang tertarik kepadaku.

Hai, pemimpi 
Berjuanglah sekeras kau bisa,
Setelah kau capai mimpimu dalam negeriku ini
Izinkan aku untuk menitipkan sebuah pesan.
Akan kah kau akan tetap menjadi seperti penguasa negeriku ini? 
Menutup semuanya dengan tirani?

Ah, untuk sekarang pun aku tak ingin mendengarkan jawabanmu. 
Satu ucapku siapapun kamu , yang sedang bermimpi. 
Jangan kau terbangun, karena di alam mimpimu sajalah kau akan bisa terus bahagia 




Malang, 19 April 2019



No comments:

Post a Comment