Saturday, 18 April 2020

Pemimpi di Dalam Negeri Tirani

Hai , pemimpi
Bagaimana tidurmu malam ini?
Apakah sebungah hari kemarin?
Atau kah sudah berubah jadi setan?

Hai, pemimpi
Masih kah kau melihat bintang?
Masih ada kah bulan? 
Masih ada kah secercah sinar di langit? 

Hai , pemimpi 
Masih kah kau melihat istana?
Masih kah kau menunggang kuda bah seorang pangeran? 
Masih kah kau di dampingi oleh selir-selirmu yang cantik? 

Hai , pemimpi
Di dalam sadarku
Aku tak pernah berbahagia 
Semuanya menjelma menjadi setan 

Hai, pemimpi 
Aku tak pernah melihat bintang,
Aku tak pernah melihat bulan , dan bahkan secercah sinar di langit,
Di negeriku ini tirani , mengikutiku kemanapun aku pergi.

Hai, pemimpi
Aku masih juga melihat istana , iya istana milik raja dan keturunannya yang sampai kapanpun akan selalu tetap milik mereka,
Aku pun hanya berjalan sampai kau bisa menengok terdapat begitu banyak kapal di telapak kakiku,
Aku untuk memikirkan makanku esok hari masih saja bingung , bagaimana aku bisa mendambakan seorang yang begitu menawan yang tertarik kepadaku.

Hai, pemimpi 
Berjuanglah sekeras kau bisa,
Setelah kau capai mimpimu dalam negeriku ini
Izinkan aku untuk menitipkan sebuah pesan.
Akan kah kau akan tetap menjadi seperti penguasa negeriku ini? 
Menutup semuanya dengan tirani?

Ah, untuk sekarang pun aku tak ingin mendengarkan jawabanmu. 
Satu ucapku siapapun kamu , yang sedang bermimpi. 
Jangan kau terbangun, karena di alam mimpimu sajalah kau akan bisa terus bahagia 




Malang, 19 April 2019



ISLAM kah AKU?

Mulai lagi aku coba ceritakan pengalamanku yang telah lama aku tidak tulis.

Lalu mengapa aku memberikan judul seperti itu? Terlepas dari obralanku dengan bapak dosen yang ada di kostsanku. 

Yang mari kita sama-sama mengevaluasi diri kita terlebih dulu. Nah kemarin tanpa sengaja kita berbicara tentang sosok yang sangat beliau idam idam kan yaitu tidak lain yaitu gus mus , dan dengan topik juga islam kah aku yang terdapat di salah satu puisinya?

Oke mari kita mulai dengan pendekatan sederhana saja. Apasih yang kita pahami mengenai islam? Oke kita sama-sama mengatahui islam adalah agama yang di sebarkan oleh nabi Muhammad SAW. Nah penyebarannya masuk ke dalam indonesia melalui wali-waliullah yang dimana yang terkenal di indonesia adalah wali 9.
Lanjut, islam masuk ke indonesia bukanlah agama yg pertama ada disini. Dan jadi cara penyebarannya tentu tidak menyalahi tata cara islam pada umumnyaa dan di tambahkan budaya budaya di nusantara ini sendiri agar juga menarik bagi masyarakatnya. 
Nah di situ wali 9 mengajarkan kebaikan-kebaikan islam dimana adab nabi pun sangat di gunakan oleh para-para wali yang menyebarkan agama islam di dalam nusantara saat itu atau indonesia saat ini. 

Lalu adakah sekarang kita lupa ajaran tersebut? Pasti banyak yang akan berteriak kita tidak lupa kita tidak lupa , oke secara garis besar kalian semua tidak lupa. Akan tetapi kalian lupa bahwasannya islam adalah agama yg sangat-sangat begitu baik bahkan orang yang menghina rosulpun (muhammad) beliau doakan semoga keturunan orang yg menghina agamanya menjadi manusia yg taat kepada ALLAH. 
Kita generasi muda bisa mencotoh beliau yang bahkan di tirukan syiarnya oleh para wali. Namun apakah hari ini begitu? Saya tidak ingin berkomentar banyak menganai hari ini seperti apa, karena saya sendiri pun bukan orang yg begitu paham menganai islam.
Lalu bagaimana cara kita bisa mengatakan bahwa kita ini islam? Gusmus hanya mencotohkan kamu hanya perlu menjalankan agamamu secara benar soal orang lain kamu tidak perlu menghakimi dia benar atau salah atau apapun itu. Pertanyaannya adalah ketika seperti itu menjustifakasi seseorang anda itu siapa? Bukankah anda adalah juga hambanya yang juga belum pernah tau apa yang anda lakukan itu benar kah? Apa buktinya kalau anda benar? Dan apakah anda yakin , anda islam?. 
Dan dengan kita coba dengar ucapan dari salah satu ulama bagaimana mungkin kau mengetahui islam secara penuh kau yang hanya belajar islam baru 1-3jam perhari sudah dapat menjustifakasi seseorang. Apakah seperti itu? Saya sendiri yang hidupnya saya habiskan untuk belajar agama, saya tidak mengatakan saya benar. Karena namanya manusia adalah tempatnya salah dan dosa.
Jadi, gunakanalah islam itu dalam jalan hidup berbuatlah baik sesama makhluk ciptaanya .
Apa itu makhluk ciptannya? Ya semua dari yang ada sampe bahkan yang nggak ada. 

Wah berarti kita cukup untuk menjadi baik ya? Yaiya dong menjadi baik adalah kewajiban setiap makhluk , lalu definis baik pun sangat beragama mangkannya lakukan dengan hati yang riang gembira. Nah seperti itulah akhir diskusi kita tadi malam. 


Lalu masihkah kita merasa lebih islam dari pada ada yg lain? Coba renungkan jawabannya untuk diri kita masing-masing.





Malang, 18 april 2019

Sunday, 5 April 2020

Rutinitas

Kehidupan normal sudah di mulai kembali
Lantaskah semua berubah?
Pengamatanku tetap sama,
Hiruk pikuk kebisingan kota masih tetap
Fikiran fikiran orang-orangpun masih tetap sama?
Lantas yang berubah apanya?

Kegundahan demi kegundahan masih sering aku dengar, bahkan lebih parah.
Semakin banyak senyum-senyum palsu di panggung yang nyata.

Ke haluan ke haluan masih sering aku dengar.
Ke romantisan ke romantisan yang masih di pertontonkan juga masih tetap itu-itu saja.
Kesetaraan derajat? Masih begitu terlihat.

Masihkah semua harap-harapan orang untuk hidup enak mati tak mau terwujud?mari kita tunggu sebuah ketidak mungkinan yang selalu di semogakan orang-orang jawa.
Akankan seseorang itu benar-benar menjawab cita-cita negeriku ini?
Selalu dalam kalimat orang pada umumnya "semoga"